Showing posts tagged AlQur'an.
x

Agomipanda's

“Seandainya kalian betul-betul bertawakal pada Allah, sungguh Allah akan  memberikan kalian rezeki sebagaimana burung mendapatkan rezeki. Burung  tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore  harinya dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Al Hakim. Dikatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no. 310)

“Wahai sekalian manusia, bertakwalah engkau kepada Allah, dan tempuhlah  jalan yang baik dalam mencari rizqi, karena sesungguhnya tidaklah  seorang hamba akan mati, hingga ia benar-benar telah mengenyam seluruh  rizqinya, walaupun telat datangnya. Maka bertakwalah kepada Allah, dan  tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rizqi. Tempuhlah jalan-jalan  mencari rizqi yang halal dan tinggalkan yang haram.” (Riwayat Ibnu Majah, Abdurrazzaq, Ibnu Hibban, dan Al Hakim, serta dishohihkan oleh Al Albani)

“Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah  mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa  yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui  (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syuraa: 27)

“Apabila sholat telah selesai ditunaikan maka bertebaranlah kamu  sekalian dimuka bumi ini dan carilah karunia Allah.” (Al-Jum’ah:10)

“Seandainya kalian betul-betul bertawakal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana burung mendapatkan rezeki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.”
(HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Al Hakim. Dikatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no. 310)

“Wahai sekalian manusia, bertakwalah engkau kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rizqi, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga ia benar-benar telah mengenyam seluruh rizqinya, walaupun telat datangnya. Maka bertakwalah kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rizqi. Tempuhlah jalan-jalan mencari rizqi yang halal dan tinggalkan yang haram.”
(Riwayat Ibnu Majah, Abdurrazzaq, Ibnu Hibban, dan Al Hakim, serta dishohihkan oleh Al Albani)

“Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.”
(QS. Asy Syuraa: 27)

“Apabila sholat telah selesai ditunaikan maka bertebaranlah kamu sekalian dimuka bumi ini dan carilah karunia Allah.” (Al-Jum’ah:10)

— 1 year ago with 1 note
#Karunia  #AlQur'an  #Hadist  #Rezeki  #Rizqi 
 وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًا 
Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat. (QS. An-Naba’: 9)

Dari  Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:
قِيْلُوا فَإِنَّ الشَّيَاطِيْنَ لاَ تَقِيْلُ
“Qailulah-lah (istirahat sianglah) kalian, sesungguhnya setan-setan itu tidak pernah istirahat siang.” (HR. Abu Nu’aim dalam Ath-Thibb, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 1637: isnadnya shahih)

وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًا

Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat. (QS. An-Naba’: 9)

Dari  Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:

قِيْلُوا فَإِنَّ الشَّيَاطِيْنَ لاَ تَقِيْلُ

Qailulah-lah (istirahat sianglah) kalian, sesungguhnya setan-setan itu tidak pernah istirahat siang.” (HR. Abu Nu’aim dalam Ath-Thibb, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 1637: isnadnya shahih)

— 1 year ago with 5 notes
#AlQur'an  #Hadist  #Tidur  #Qailulah 
“Tidak ada satu makhluk melatapun di muka bumi kecuali Allah yang menanggung rezekinya, dan Dia yang mengetahui tempat berdiamnya dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh)”   (Huud : 6)
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (Alam Nasyrah: 5-6)[Dirangkum dari Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah2]
“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya”. Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya”. (Ath-Thalaq: 2-4)
“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan kami tambah  keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di  dunia kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak  ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (Asy-Syuro: 20)

“Tidak ada satu makhluk melatapun di muka bumi kecuali Allah yang menanggung rezekinya, dan Dia yang mengetahui tempat berdiamnya dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh)” (Huud : 6)

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (Alam Nasyrah: 5-6)[Dirangkum dari Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah2]

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya”. Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya”. (Ath-Thalaq: 2-4)

“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (Asy-Syuro: 20)

— 1 year ago with 1 note
#Semangat  #AlQur'an 
He who emigrated (from his home) in the Cause of Allaah, will  find on earth many dwelling places and plenty to live by. And whosoever  leaves his home as an emigrant unto Allaah and His Messenger, and death  overtakes him, his reward is then surely incumbent upon Allaah. And  Allaah is Ever Oft-Forgiving, Most Merciful. {Sooratun Nisaa 4:100}

He who emigrated (from his home) in the Cause of Allaah, will find on earth many dwelling places and plenty to live by. And whosoever leaves his home as an emigrant unto Allaah and His Messenger, and death overtakes him, his reward is then surely incumbent upon Allaah. And Allaah is Ever Oft-Forgiving, Most Merciful. {Sooratun Nisaa 4:100}

— 1 year ago with 15 notes
#AlQur'an  #Emigrated 
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)’. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (Al-Baqarah: 120)

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)’. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (Al-Baqarah: 120)

— 1 year ago
#AlQur'an 
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang itu menurut agama teman dekat/sahabatnya, maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat dengan siapa ia bersahabat.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 927)
“Dan ingatlah hari ketika itu orang yang zalim menggigit dua  tangannya, seraya berkata, ‘Aduhai kiranya dulu aku mengambil jalan  bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, andai kiranya dulu aku  tidak menjadikan si Fulan itu teman akrabku. Sungguh ia telah  menyesatkan aku dari Al-Qur`an ketika Al-Qur`an itu telah datang  kepadaku.’ Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia.” (Al-Furqan: 27-29)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Janganlah engkau berteman kecuali dengan mu’min, dan jangan ada orang  yang memakan makananmu kecuali orang yang bertaqwa.” (HR. Abu Dawud, At  Tirmidzi)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Permisalan teman duduk yang baik dan teman duduk yang jelek  seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. (Duduk dengan) penjual  minyak wangi bisa jadi ia akan memberimu minyak wanginya, bisa jadi  engkau membeli darinya dan bisa jadi engkau akan dapati darinya aroma  yang wangi. Sementara (duduk dengan) pandai besi, bisa jadi ia akan  membakar pakaianmu dan bisa jadi engkau dapati darinya bau yang tak  sedap.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Adi bin Zaid, seorang penyair Arab, berkata:
 Tidak perlu engkau bertanya tentang (siapa) seseorang itu, namun tanyalah siapa temannya Karena setiap teman meniru temannya Bila engkau berada pada suatu kaum maka bertemanlah dengan orang yang terbaik dari mereka Dan janganlah engkau berteman dengan orang yang rendah/hina niscaya engkau akan hina bersama orang yang hina Karenanya lihat-lihat dan timbang-timbanglah dengan siapa engkau berkawan.

Lalu sebagian mereka (penghuni surga) menghadap sebagian yang  lain sambil bercakap-cakap. Berkatalah salah seorang di antara mereka,  “Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) memiliki seorang teman. Temanku itu  pernah berkata, ‘Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang yang  membenarkan hari berbangkit? Apakah bila kita telah meninggal dan kita  telah menjadi tanah dan tulang belulang, kita benar-benar akan  dibangkitkan untuk diberi pembalasan.” Berkata pulalah ia, “Maukah  kalian meninjau temanku itu?” Maka ia meninjaunya, ternyata ia melihat  temannya itu di tengah-tengah neraka yang menyala-nyala. Ia pun berucap,  “Demi Allah! Sungguh kamu benar-benar hampir mencelakakanku. Jikalau  tidak karena nikmat Rabbku pastilah aku termasuk orang-orang yang  diseret ke neraka.” (Ash-Shaffat: 50-57)
“Hai orang-orang yang beriman, jangan kamu ambil menjadi teman  kepercayaanmu orang-orang yang bukan golonganmu (sebab) mereka  senantiasa menimbulkan bahaya bagi kamu dan mereka senang dengan apa  yang menyusahkanmu.” (QS. Ali Imran : 118) ]
Ibnu Mas’ud berkata : “Nilailah seseorang itu dengan siapa ia berteman karena seorang Muslim  akan mengikuti Muslim yang lain dan seorang fajir akan mengikuti orang  fajir yang lainnya.” (Al Ibanah 2/477 nomor 502 dan Syarhus Sunnah Al  Baghawi 13/70)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang itu menurut agama teman dekat/sahabatnya, maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat dengan siapa ia bersahabat.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 927)

“Dan ingatlah hari ketika itu orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata, ‘Aduhai kiranya dulu aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, andai kiranya dulu aku tidak menjadikan si Fulan itu teman akrabku. Sungguh ia telah menyesatkan aku dari Al-Qur`an ketika Al-Qur`an itu telah datang kepadaku.’ Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia.” (Al-Furqan: 27-29)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
”Janganlah engkau berteman kecuali dengan mu’min, dan jangan ada orang yang memakan makananmu kecuali orang yang bertaqwa.” (HR. Abu Dawud, At Tirmidzi)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Permisalan teman duduk yang baik dan teman duduk yang jelek seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. (Duduk dengan) penjual minyak wangi bisa jadi ia akan memberimu minyak wanginya, bisa jadi engkau membeli darinya dan bisa jadi engkau akan dapati darinya aroma yang wangi. Sementara (duduk dengan) pandai besi, bisa jadi ia akan membakar pakaianmu dan bisa jadi engkau dapati darinya bau yang tak sedap.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Adi bin Zaid, seorang penyair Arab, berkata:

 Tidak perlu engkau bertanya tentang (siapa) seseorang itu, namun tanyalah siapa temannya
Karena setiap teman meniru
temannya
Bila engkau berada pada suatu kaum maka bertemanlah dengan
orang yang terbaik dari mereka
Dan janganlah engkau berteman dengan orang yang rendah/hina niscaya engkau akan hina bersama orang yang hina
Karenanya lihat-lihat dan timbang-timbanglah dengan siapa engkau berkawan.


Lalu sebagian mereka (penghuni surga) menghadap sebagian yang lain sambil bercakap-cakap. Berkatalah salah seorang di antara mereka, “Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) memiliki seorang teman. Temanku itu pernah berkata, ‘Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang yang membenarkan hari berbangkit? Apakah bila kita telah meninggal dan kita telah menjadi tanah dan tulang belulang, kita benar-benar akan dibangkitkan untuk diberi pembalasan.” Berkata pulalah ia, “Maukah kalian meninjau temanku itu?” Maka ia meninjaunya, ternyata ia melihat temannya itu di tengah-tengah neraka yang menyala-nyala. Ia pun berucap, “Demi Allah! Sungguh kamu benar-benar hampir mencelakakanku. Jikalau tidak karena nikmat Rabbku pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret ke neraka.” (Ash-Shaffat: 50-57)

“Hai orang-orang yang beriman, jangan kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang bukan golonganmu (sebab) mereka senantiasa menimbulkan bahaya bagi kamu dan mereka senang dengan apa yang menyusahkanmu.” (QS. Ali Imran : 118) ]

Ibnu Mas’ud berkata :
“Nilailah seseorang itu dengan siapa ia berteman karena seorang Muslim akan mengikuti Muslim yang lain dan seorang fajir akan mengikuti orang fajir yang lainnya.” (Al Ibanah 2/477 nomor 502 dan Syarhus Sunnah Al Baghawi 13/70)

— 1 year ago with 2 notes
#hadist  #AlQur'an